Cara mengatur Human Centric Lighting di kantor dapat dilakukan melalui enam langkah:
- Petakan fungsi dan waktu penggunaan setiap area.
- Catat aktivitas yang membutuhkan mode cahaya berbeda.
- Kelompokkan area berdasarkan akses daylight.
- Tentukan pengaturan cahaya berdasarkan waktu dan aktivitas.
- Atur respons otomatis serta kontrol pengguna.
- Uji setiap mode bersama pengguna sebelum diterapkan rutin.
Pengaturan Human Centric Lighting atau HCL tidak cukup dibuat sebagai satu jadwal perubahan cahaya untuk seluruh kantor. Area kerja, ruang rapat, area istirahat, dan ruang multifungsi mempunyai aktivitas, akses daylight, serta pola penggunaan yang berbeda.
Sebelum menyusun skenario implementasi, Anda dapat mempelajari konsep Human Centric Lighting dan manfaatnya bagi kantor. Selanjutnya, gunakan lima variabel—area, waktu, aktivitas, daylight, dan kontrol sistem—untuk menentukan mode yang benar-benar dibutuhkan.
Gunakan setiap standar sesuai fungsinya. Menurut EN 12464-1:2021 membahas kebutuhan pencahayaan tempat kerja dalam ruangan, sedangkan SNI 6197:2020 berfokus pada konservasi energi, dan SNI 7062:2019 menjadi acuan pengukuran intensitas cahaya.
Ketiganya bukan jadwal baku perubahan cahaya sepanjang hari. Pengaturan HCL tetap perlu disesuaikan dengan fungsi ruang, aktivitas, daylight, serta hasil pengujian.
Catatan: Contoh mode dalam artikel ini bukan pengaturan baku untuk semua kantor. Tingkat pencahayaan, distribusi cahaya, sistem kontrol, dan kesesuaian perangkat perlu ditentukan melalui perencanaan, pengukuran, serta pengujian langsung bersama konsultan pencahayaan, kontraktor, atau tenaga teknis yang kompeten.
Petakan Penggunaan Setiap Area Kantor
Mulailah dengan mencatat fungsi ruang, jam penggunaan, posisi pengguna, aktivitas, dan kondisi khusus yang memengaruhi kebutuhan pencahayaan. Pemetaan ini menjadi dasar penyusunan zona dan mode cahaya.
1. Bedakan Area Kerja, Ruang Rapat, dan Area Istirahat
Setiap area tidak dapat menggunakan pengaturan yang sama. Area kerja digunakan untuk melihat layar atau dokumen dalam durasi panjang, sedangkan ruang rapat dapat berganti antara diskusi, presentasi, dan konferensi video. Area istirahat juga mempunyai kebutuhan berbeda karena digunakan untuk jeda atau interaksi informal.
2. Catat Perubahan Penggunaan dalam Satu Hari
Periksa apakah suatu ruang berganti fungsi pada waktu tertentu. Ruang rapat, misalnya, dapat digunakan untuk presentasi pada pagi hari dan brainstorming pada siang hari. Kondisi seperti ini membutuhkan beberapa mode, bukan satu pengaturan sepanjang hari.
Gunakan tabel berikut untuk melakukan pemetaan awal.
| Area | Fungsi | Jam Penggunaan | Aktivitas | Durasi Penggunaan | Kondisi Khusus |
| Area kerja | Kerja individu | Jam operasional | Menggunakan layar dan dokumen | Panjang | Sebagian meja dekat jendela |
| Ruang rapat | Ruang multifungsi | Sesuai pemesanan | Diskusi, presentasi, konferensi video | Berubah | Terdapat layar dan kamera |
| Area istirahat | Jeda kerja | Waktu tertentu | Makan dan percakapan | Singkat | Aktivitas informal |
Tentukan Aktivitas yang Membutuhkan Mode Cahaya Berbeda
Kelompokkan aktivitas berdasarkan tuntutan visual, suasana ruang, dan pola penggunaannya. Dengan cara ini, skenario pencahayaan kantor tidak hanya berubah karena pergantian waktu.
1. Kerja Fokus dan Pekerjaan dengan Detail Tinggi
Mode kerja fokus perlu menjaga layar, dokumen, dan objek kerja tetap terlihat nyaman tanpa pantulan yang mengganggu. Pertimbangkan posisi pengguna, arah pandang, durasi bekerja, serta perbedaan antara pekerjaan rutin dan pekerjaan berketelitian tinggi.
2. Rapat, Diskusi, dan Brainstorming
Rapat formal membutuhkan wajah peserta dan materi rapat yang terlihat jelas. Diskusi kolaboratif perlu mendukung komunikasi antarpeserta, sedangkan brainstorming dapat membutuhkan perhatian lebih pada papan tulis atau area kerja bersama.
3. Presentasi dan Konferensi Video
Mode presentasi perlu menyeimbangkan keterlihatan layar, wajah peserta, dan area pembicara. Untuk konferensi video, periksa pula tampilan wajah melalui kamera agar tidak terlalu gelap, berbayang, atau terkena silau.
4. Istirahat dan Aktivitas Informal
Mode istirahat dapat membantu perpindahan dari pekerjaan intensif menuju jeda atau percakapan informal. Meskipun demikian, cahaya tetap harus memadai untuk aktivitas yang dilakukan di area tersebut.
Bedakan Pengaturan Area Dekat dan Jauh dari Jendela
Bagilah ruangan menjadi beberapa zona berdasarkan jumlah dan kestabilan daylight. Pembagian ini mencegah lampu buatan merespons secara seragam ketika kondisi cahaya alami setiap area berbeda.
1. Area Dekat Jendela
Lampu pada zona dekat jendela dapat diredupkan ketika daylight sudah mencukupi. Respons sistem tetap perlu mengantisipasi perubahan cuaca, penggunaan tirai, bayangan bangunan, dan pergeseran posisi matahari.
2. Area Tengah dan Area yang Jauh dari Jendela
Area yang memperoleh daylight secara terbatas membutuhkan cahaya buatan lebih konsisten. Pisahkan kontrolnya dari zona dekat jendela agar pengurangan cahaya pada satu zona tidak membuat area lain kekurangan penerangan.
3. Area dengan Risiko Silau
Periksa pantulan pada monitor, meja, kaca, dan bidang mengilap dari posisi pengguna. Penilaian perlu memperhatikan arah daylight, distribusi cahaya lampu, tata letak layar, dan sudut pandang pengguna.

Susun Mode Pencahayaan Berdasarkan Waktu dan Aktivitas
Gabungkan data area, waktu, aktivitas, dan kondisi daylight menjadi beberapa mode. Mode tidak harus dibuat terlalu banyak, tetapi perlu mencakup perbedaan penggunaan ruang yang benar-benar terjadi.
1. Mode Awal Jam Kerja
Susun pengaturan untuk mendukung transisi ketika karyawan mulai bekerja. Tingkat cahaya dan karakter pencahayaan perlu mengikuti aktivitas awal, daylight yang tersedia, dan hasil pengujian, bukan angka yang diberlakukan secara universal.
2. Mode Kerja Aktif
Gunakan mode ini selama periode kerja utama. Pengaturannya perlu mempertimbangkan tuntutan visual, kenyamanan pengguna, aktivitas pada setiap area, dan respons masing-masing zona terhadap daylight.
3. Mode Aktivitas Khusus
Sediakan mode terpisah untuk presentasi, konferensi video, brainstorming, atau pekerjaan dengan tuntutan visual tertentu. Kebutuhan aktivitas tersebut tidak selalu dapat dipenuhi oleh mode kerja rutin.
4. Mode Menjelang Akhir Jam Kerja
Perubahan cahaya dapat dilakukan secara bertahap sesuai aktivitas yang masih berlangsung. Jangan otomatis mengurangi pencahayaan apabila pengguna masih mengerjakan tugas yang membutuhkan visibilitas tinggi.
5. Mode Lembur
Sediakan mode khusus untuk area yang tetap digunakan setelah jam operasional. Mode ini mencegah lampu mengikuti jadwal penutupan umum ketika karyawan masih bekerja.
Matriks berikut menunjukkan logika penyusunan skenario, bukan setting baku bagi semua kantor.
| Area | Waktu | Aktivitas | Kondisi Daylight | Mode Pencahayaan | Respons Sistem |
| Area kerja | Awal jam kerja | Persiapan dan kerja rutin | Rendah | Mode awal kerja | Aktif berdasarkan jadwal |
| Area kerja | Siang | Kerja fokus | Tinggi | Penyesuaian daylight | Sensor mengurangi cahaya buatan |
| Ruang rapat | Siang | Presentasi | Sedang | Mode presentasi | Dipilih pengguna |
| Ruang rapat | Siang | Diskusi | Sedang | Mode kolaborasi | Dipilih pengguna |
| Area istirahat | Sore | Istirahat | Rendah | Mode santai | Aktif sesuai jadwal |
| Area tertentu | Malam | Lembur | Tidak ada | Mode lembur | Aktif berdasarkan okupansi |
Tentukan Cara Sistem Mengaktifkan Setiap Mode
Pilih pemicu berdasarkan pola penggunaan ruang agar sistem tidak hanya bergantung pada jadwal tetap.
1. Jadwal Otomatis
Gunakan jadwal pada area yang mempunyai jam operasional dan pola aktivitas relatif konsisten. Jadwal dapat menjadi pengaturan dasar sebelum sensor atau pengguna melakukan penyesuaian.
2. Sensor Daylight
Sensor daylight membantu menyesuaikan cahaya buatan berdasarkan cahaya alami yang tersedia pada setiap zona. Posisi, kalibrasi, dan batas respons sensor perlu diuji agar perubahan tidak berlebihan atau terlalu sering.
3. Sensor Kehadiran
Sensor kehadiran dapat mengaktifkan, meredupkan, atau mematikan lampu berdasarkan keberadaan pengguna. Atur jeda waktu yang memadai agar lampu tidak berubah ketika ruangan masih digunakan.
4. Pilihan Mode oleh Pengguna
Kontrol pengguna tetap dibutuhkan pada ruang rapat multifungsi, ruang presentasi, dan area lembur. Aktivitas pada area tersebut sulit ditentukan hanya melalui jadwal atau sensor.
5. Kombinasi Beberapa Pemicu
Sistem kontrol dapat menggabungkan jadwal, daylight, kehadiran, dan pilihan pengguna. Tentukan prioritas perintah sejak awal. Sebagai contoh, mode presentasi yang dipilih pengguna dapat mengesampingkan jadwal umum hingga kegiatan selesai.

Atur Batas Kontrol bagi Pengguna
Pengguna tetap perlu memperoleh ruang untuk menyesuaikan kenyamanan, tetapi perubahan manual harus dibatasi agar tidak merusak skenario utama.
1. Tentukan Pengaturan yang Bisa Diubah
Tetapkan apakah pengguna dapat memilih mode, mengatur tingkat cahaya, atau mengaktifkan pengaturan khusus. Kontrol ini dapat menggunakan perangkat yang sesuai dengan kemampuan sistem, termasuk jenis sakelar yang dapat mengatur intensitas cahaya atau memilih mode operasi. Pilihan yang tersedia tetap perlu dibatasi berdasarkan fungsi area agar perubahan pengguna tidak mengganggu skenario pencahayaan utama.
2. Tentukan Cara Sistem Kembali ke Pengaturan Awal
Gunakan batas waktu, akhir pemesanan ruang, kondisi tanpa okupansi, atau tombol reset. Mekanisme ini mencegah perubahan manual terus aktif setelah aktivitas selesai.
Uji Setiap Mode Sebelum Diterapkan secara Rutin
Lakukan pengujian pada waktu, aktivitas, dan kondisi daylight yang berbeda bersama pengguna yang bekerja di area tersebut. Pengujian menunjukkan apakah skenario yang dirancang sesuai dengan kondisi penggunaan sebenarnya.
1. Periksa Perpindahan Antar-Mode
Pastikan perubahan cahaya berlangsung nyaman, tidak terlalu mendadak, dan tidak mengganggu aktivitas. Periksa pula apakah sistem berpindah ke mode yang tepat ketika kondisi ruang berubah.
2. Kumpulkan Masukan dari Pengguna
Minta pengguna menilai kenyamanan, silau, keterlihatan layar, kemudahan memilih mode, dan kesesuaian cahaya dengan aktivitas. Masukan perlu dikumpulkan dari beberapa posisi kerja, bukan hanya satu titik.
3. Catat Pengaturan yang Perlu Diperbaiki
Dokumentasikan kondisi pengujian, keluhan, perubahan yang dilakukan, dan hasil uji ulang. Gunakan checklist berikut agar evaluasi berjalan konsisten.
FAQ tentang Pengaturan Human Centric Lighting di Kantor
Beberapa pertanyaan berikut dapat membantu memperjelas pembagian zona, penggunaan sistem otomatis, dan kebutuhan evaluasi setelah HCL diterapkan.
1. Apakah seluruh kantor dapat menggunakan satu jadwal HCL?
Tidak selalu. Perbedaan fungsi area, aktivitas, akses daylight, dan waktu penggunaan biasanya membutuhkan pembagian zona atau mode pencahayaan.
2. Apakah Human Centric Lighting harus menggunakan sistem otomatis?
Tidak harus sepenuhnya otomatis. Otomatisasi membantu menjalankan perubahan secara konsisten, tetapi bentuk kontrolnya perlu disesuaikan dengan kebutuhan ruang dan kemampuan sistem.
3. Apakah suhu warna cukup diatur berdasarkan waktu?
Tidak. Pengaturan juga perlu mempertimbangkan aktivitas, daylight, kebutuhan visual, kondisi ruang, dan kenyamanan pengguna.
4. Apakah pengguna tetap perlu diberi kontrol manual?
Ya, terutama pada ruang dengan aktivitas yang berubah-ubah. Pengguna dapat diberi pilihan mode atau penyesuaian dalam batas yang telah ditentukan.
5. Kapan skenario pencahayaan perlu dievaluasi ulang?
Evaluasi perlu dilakukan setelah terjadi perubahan layout, fungsi ruang, jam kerja, pola okupansi, atau perangkat. Evaluasi juga dibutuhkan ketika pengguna mulai mengeluhkan silau, perubahan cahaya, atau ketidaksesuaian mode dengan aktivitas.
Kesimpulan
Jangan menerapkan satu pengaturan Human Centric Lighting untuk seluruh kantor. Mulailah dengan memetakan penggunaan setiap area, membedakan aktivitas, dan membagi zona berdasarkan daylight. Setelah itu, susun mode sesuai waktu dan penggunaan ruang, tentukan pemicu serta batas kontrol pengguna, lalu uji setiap mode sebelum diterapkan secara rutin.
Susun Kebutuhan Sistem Pencahayaan Kantor Bersama MCB
Setelah area, aktivitas, zona daylight, dan skenario pencahayaan dipetakan, pemilik gedung, kontraktor, konsultan, serta pengelola fasilitas dapat berkonsultasi dengan PT. Mega Citra Bestari. Konsultasi dapat difokuskan pada pemilihan lampu, sistem kontrol, sensor, dan perangkat pendukung yang sesuai dengan rancangan kantor. Siapkan denah serta matriks skenario agar kebutuhan proyek dapat dibahas secara lebih terarah.
Alamat: Jl. Sidosermo Indah no. 25 Surabaya 60239
Telepon: (031) 8490300
Fax: (031) 8490400
Email: info@mcbestari.com
Whatsapp: 08113620300
Referensi
1. Badan Standardisasi Nasional. (2019). SNI 7062:2019: Pengukuran intensitas pencahayaan di tempat kerja.
https://pesta.bsn.go.id/produk/detail/12374-sni70622019
2. Badan Standardisasi Nasional. (2020). SNI 6197:2020: Konservasi energi pada sistem pencahayaan.
https://pesta.bsn.go.id/produk/detail/13243-sni61972020
3. European Committee for Standardization. (2021). EN 12464-1:2021: Light and lighting—Lighting of work places—Part 1: Indoor work places. UNI.
https://webstore.uni.com/en-12464-1-2021






